Inilah 6 Keistimewaan Lebah Yang Layak Ditiru Manusia
Lebah, binatang kecil yang diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam Al Qur’an yaitu An-Nahl.
Selain itu, Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar).
Apa sebenarnya keistimewaan lebah tersebut?
Berikut ini keistimeewan yang ada pada karakter lebah sehingga bisa menjadi pelajaran yang dapat dipetik oleh manusia:
- Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lain yang mengandung bahan madu atau nektar. Begitulah pula sifat seorang mukmin, haruslah mencari dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (QS al-Baqarah [2]:168).
- Mengeluarkan yang bersih. Yang dikeluarkan oleh lebah adalah madu yang menyehatkan bagi manusia. Dia produktif dengan kebaikan dibandingkan binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikkan. Demikian juga Seorang mukmin, haruslah produktif dengan kebajikan (QS al-Hajj [22]:77).
- Tidak pernah merusak. Lebah seringkali menambatkan diri di dahan, namun dahan itu tidak rusak dan patah. Ia tidak merusak lingkungan hidupnya, padahal dia tidak punya akal. Sedangkan manusia yang punya akal justru berlomba-lomba merusak lingkungan hidupnya sendiri demi keserakahan diri sendiri dan keturunannya. Maka, manusia haruuslah belajar dari lebah.
- Bekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya, lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva dengan membawakan serbuk sari madu. Mukmin pun harusnya demikian. Seorang mukmin lebih dituntut bekerja keras dan semangat pantang menyerah. Jika telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS as-Syarh [94]:7).
- Bekerja secara kolektif dan tunduk pada satu pimpinan. Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman yang diibaratkan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS ash-Shaff [61]:4).
- Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin harus memiliki solidaritas dan kepedulian empati terhadap sesamanya, dalam kondisi dan keadaan apa pun bagai satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Sumber: https://www.inspiradata.com
Comments
Post a Comment